Yup, Usman menggambarkan guru sebagai sebuah pelita
yang membimbing kita di masa kecil dulu sebelum beranjak dewasa. Guru juga
tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, namun juga memberikan nasihat dan
membimbing demi membentuk karakter pelajar-pelajar yang luhur en mulia.
Selain Usman, Bang Iwan Fals juga mendendangkan sebuah
lagu berjudul “Oemar Bakri”, tokoh fiksi yang menyimbolkan guru yang sederhana
dan penuh pengabdian, berjuang di usianya yang sudah paruh baya dengan harapan
agar para pelajar yang ia bimbing tumbuh menjadi manusia yang baik.
Islam memiliki adab yang luar biasa pada seorang guru.
Pada kitab karangan Imam al-Ghazali misalnya, setidaknya ada 11 adab yang wajib
dimiliki murid terhadap gurunya, diantaranya adalah: Apabila bertemu atau berdepan
dengan guru, murid hendaklah mendahului salam; murid hendaklah mengurangkan
percakapan di depan guru, murid tidak boleh berkata sesuatu yang tidak di
izinkan gurunya; dan apabila guru berdiri atau baru tiba, murid hendaklah
berdiri menghormatinya.
Penghargaan Islam kepada guru juga nampak pada
pemberian honor yang begitu besar. Dikisahkan, gaji seorang pengajar sekolah
dasar pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab mencapai belasan dinar per
bulannya. Apabila emas per gramnya sebesar Rp.400.000 dan satu dinarnya 4.25
gram emas, tinggal dikalikan saja tuh berapa besarnya gaji seorang guru.
Namun sobat, rasa-rasanya hari ini adab berguru sudah
banyak ditinggalkan oleh para pelajar. Banyak pelajar yang kurang bahkan tidak
hormat kepada gurunya. Ketemu di jalan, sengaja memalingkan muka biar ngga
ketahuan. Berbicara dengan intonasi tinggi. Asyik dalam dunianya sendiri ketika
guru sedang memberikan penerangan. Ada pula yang sampai berbohong kepada
gurunya dalam kasus-kasus tertentu.
Pun, stereotype tentang guru hari gini kayaknya
sudah menyimpang jauh. Guru yang identik sebagai sosok tauladan untuk digugu
dan ditiru, kini berubah menjadi sosok monster yang ditakuti alias dikenal
sebagai guru killer. Ada juga sosok guru lain yang alih-alih mengerahkan
upaya terbaiknya dalam mendidik pelajar-pelajarnya, malahan lebih sibuk dalam
urusan lain meski pada waktunya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Ada juga sosok
guru yang lebih supel, gaul, dan saking akrabnya dengan murid, hubungannya jadi
lebih mirip teman sepermainan dan kehilangan kewibawaan.
Tidak jarang kasus-kasus kriminalitas menimpa para
oknum guru. Seperti yang masih hangat beritanya, kasus guru mencabuli muridnya sendiri .Kita juga sempat
geger bulan Maret lalu karena ada kasus kekerasan yang dilakukan oknum guru
dengan memukul siswanya dengan pecahan batu ! Dan masih
banyak lagi kasus yang menimpa para guru di negeri kita ini. Meskipun tidak
semua guru seperti itu, tapi kasus-kasus ini sudah cukup untuk membuat kita
mengelus dada.
Guru dan
Kebangkitan Umat
Sobat pasti tahu kan, sosok Muhammad al-Fatih? Yup,
sosok khalifah muda yang tersohor sebagai pemimpin yang ada dalam bisyarah
Rasulullah saw., dengan gagahnya berhasil menaklukan kota megah Konstantinopel
dan menjadikannya pusat kepemimpinan Daulah Khilafah. Namun, tahu ngga sob,
siapa man behind the man nya Muhammad al-Fatih? Tahu ngga sob, siapa
yang membina Muhammad menjadi seorang sosok yang luar biasa, tidak hanya
sebagai seorang pemimpin, namun ulama, ahli bahasa, polymath, dan juga
tentara yang tangguh? Yup, tidak lain dan tidak bukan adalah Syaikh Aaq
Syamsudin dan Syaikh Ahmad al-Kurani. Dari hasil pembinaan beliau berdua,
Muhammad al-Fatih menjadi penghapal al-Qur’an pada umur 8 tahun, menguasai
banyak bahasa, polymath, ahli strategi militer, seorang khalifah yang
tangguh, serta orang yang senantiasa memelihara kedekatan kepada Allah swt
dalam setiap amalan sunnah, yang dikisahkan selalu menjaga shalat tahajud,
dhuha, shaum, dan tilawatil qur’an semenjak baligh hingga akhir hayatnya.
Di balik kehebatan Muhammad al-Fatih ada sosok guru
yang berperan penting. Mereka lah yang selalu memotivasi tiada henti kepada
Muhammad untuk menjadi pemimpin yang disebut oleh Rasulullah sebagai
sebaik-baiknya pemimpin. Mereka pula lah yang selalu menegur Muhammad ketika
melanggar syariah tanpa mengistimewakannya mentang-mentang anak khalifah
demi menjaganya selalu dalam koridor Islam.
Sobat, guru yang seperti inilah yang akan membawa
pengaruh yang besar pada kebangkitan umat. Guru yang visioner dan menjadikan
para siswanya visioner pula. Guru yang membimbing agar para siswa nya memiliki
kepribadian Islam dan kuat dalam masalah keduniawian.
Pastinya, guru dengan kualitas dahsyat ini adalah
produk dari sistem yang dahsyat pula, bukan sistem sekulerisme yang carut-marut
seperti saat ini. Sistem tersebut tidak lain adalah sistem berasaskan Islam,
yaitu dengan diterapkannya syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah
Khilafah. Di tangan guru-guru inilah kelak akan dicetak generasi emas pemuda
muslim yang akan membawa umat Islam menuju kemuliaan. Wallahu ‘alam.
